Laman

Kamis, 30 Agustus 2012

Cowo Keren (MR.COOL)


Sebenarnya postingan ini adalah untuk memenuhi survay yang ku lakukan sebagai cowo keren (cool)...hehehe. Tapi selain itu karena aku suka menulis, terutama sebagai cara untuk mengungkapakan bahwa aku cowo keren... :-p. Aku juga sebenarnya gak tau yang kutulis nyambung apa gak dengan Prolog ini ; tapi yang ku tahu cowo keren itu maju terus pantang mundur...wkwkwkw. Dan ditulisanku ini dominan kata "keren" ku ganti dengan COOL, agar juga mewakili bahwa aku selain cowo keren, juga dingin... (narsis dikit). Okeh, lanjut aja baca tulisanku yang merefleksikan bahwa aku cowo keren... hehehehe :D

 Cowo Keren (MR.COOL)

Berjalan didepan umum dengan ekspresi wajah yang datar, intensitas kata-katanya sedikit jarang tersenyum (senyumnya mahal) atau hanya tersenyum dingin,
mungkin ini gambaran sedikit orang yang COOL (sikapnya dingin). Aku tidak tahu, dan mungkin pernah terjadi padaku ; menjadi orang yang COOL ; berwajah datar dan jarang senyum (bahkan mungkin hingga sekarang.. hehehe!!!). Tapi aku coba mengingat-ingatnya lagi, dan coba kutulis dalam blog ini, tujuannya aku tidak tahu menuliskan cerita ini, tapi biarkan pembaca saja yang mengintepretasikan apa yang dirasakan setelah membacanya (walaupun gak ada efek yang dirasakan).
Mungkin ceritanya dimulai sejak aku SD (kalau dari lahir aku sudah gak ingat). Di sekolah dasar kalau aku ingat-ingat, sepertinya aku orang yang asik, pandai bergaul dengan teman-teman, rajin, pandai dan tidak sombong (tiga hal terakhir mungkin iya, mungkin enggak). Dan seingat ku, aku tumbuh jadi seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya ; bermain dan enggak tahu malu. Nah ngomongin masalah gak tahu malu, mungkin aku juga orang yang sedikit pemalu. Apalagi dilingkungan yang baru, sulit sekali bisa bersosialisasi dengan lingkungan yang baru. Itu membuat aku menjadi sedikit bicara, dan lebih banyak diam. Tapi kalau difkir-fikir maklum lah masih anak-anak, jadi tidak begitu dihiraukan. Aku juga sering disuruh senyum oleh teman-teman, karena saat ekspresi netral, wajahku seperti orang yang angkuh, padahal kan aku orang yang manis dan murah senyum pada siapa saja (mencari pembenaran). Entahlah, sejujurnya aku juga tidak mengerti pada waktu itu kenapa teman-teman sering bilang aku “mahal senyum”.
Kemudian setelah lulus dari SD dan melanjutkan ke SMP, disini juga teman-teman sering menyebutku pendiam dan dingin. Yang mereka tidak tahu adalah pendiamku bukan karena sikap yang tidak mau berteman, tapi karena aku lebih banyak berfikir dan mengidentifikasi lingkunganku agar aku bisa nyaman dalam bergaul. Dan walaupun telah masuk dalam suasana pergaulan yang nyaman, tetap saja teman-teman sering menyebutku “mahal senyum”, dan pendiam. Tapi yah sudahlah pikirku. Have fun saja dengan semua sebutan orang tentang ku. Lagi pula itu tidak mengganggu prestasi belajarku. Dan mungkin sikapku itu juga membuat aku memiliki pengagum rahasia. Bahkan ada yang pernah memberiku T-sirt. Tapi jujur waktu itu aku tidak nyaman dengan sikap teman sekelas yang memberiku T-sirt itu. Karena pemikiranku waktu itu hanya masih senang berteman. Dan sepertinya hal yang “tabu” naksir  cewe atau membicarakan tentang cinta bagiku. Meskipun tidak dipungkiri ketertarikan pada teman-teman perempuan sangat besar, dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan dengan perasaan seperti itu. Dan aku menikmati suasana dan perasaan seperti itu. 
Setelah lulus dari SMP, kemudian cerita berlanjut ke SMA. Saat awal pendaftaran masuk SMA, aku ingat saat itu bertemu dengan cewe manis yang sering dipanggil “Amphibi” oleh teman-teman. Kenapa Amphibi, nanti aku ceritakan. Nah, memasuki masa MOS (Masa Orientasi Siswa), ternyata kesan pendiam itu masih berlanjut dimata teman-teman. Aku stress, tertekan, depresi, hari-hariku gelap dan hampa ; hidup terasa tak berarti ( lebay dapat menyebabkan Anda alay). Aku sedikit heran, kenapa selalu saja kesan pertama orang saat bertemu aku adalah pendiam dan dingin. Dan tetap aku nikmati hal itu. Mungkin disini aku akan bercerita tentang pengalaman “relationship” ku yang membawaku memahami lebih jauh tentang COOL. Saat hari pertama MOS, aku dan semua siswa baru diarahkan dalam technical meeting apa saja peralatan yang akan dibawa besok (biasa, makanan yang aneh-aneh gitu). Setelah MOS berjalan beberapa hari (aku gak ingat berapa hari waktu itu kegiatan MOS berlangsung), sepertinya kakak kelasku yang juga pembimbingku saat MOS, memiliki ketertarikan padaku. Kebetulan kakak kelasku ini juga adalah teman dari sepupuku, jadi enak aja klow ada dia. Jujur waktu itu aku juga suka sama dia, orangnya juga manis. Tapi karena aku tidak punya pengalaman tentang masalah cinta, jadi aku hanya bisa menikmati perasaan seperti itu. Dia spertinya menunjukan perhatian padaku. Sikapnya, lakunya, selalu dekat denganku. Dan tetap aku nikmati perasaan seperti itu, dan walau akhirnya keadaannya nanti berbeda. Saat MOS, para siswa baru termasuk aku diinstruksikan membuat nama yang terbuat dari kardus, yang digantung di leher (emang mau bunuh diri). Nama untuk tiap kelompok sudah ditentukan. Kelompokku pada waktu itu berhubungan tentang seni, jadi aku buat saja namaku “Reklame”, yang ternyata harus kurubah menjadi “Seni Rupa” karena beradu argumentasi dengan koordinator MOS nya. Tapi itu tidak terlalu penting untuk dibahas. Teman cewe yang kuceritakan diawal itu kelomponya tentang biologi, dan nama yang dia pilih waktu itu “Amphibi”, makanya dia sering dipanggil Amphibi (kenapa gak sekalian buaya darat saja). Teman ceweku ini juga cantik dan manis, sehingga banyak cowo-cowo perhatian padanya ; kecuali aku yang melihatya biasa-biasa saja. Nah, biasa kalau MOS ada yang namanya membuat surat cinta yang diberikan pada kakak yang paling dikagumi. Kebetulan sekali pikirku, lewat surat itu aku bisa mengungkapkan ketertarikanku pada kakak kelasku itu. Aku tidak ingat pasti bagaimana isi suratnya, tapi ada satu kalimat “pamungkas” yang kudapat dari bertapa selama tiga hari tiga malam, tidak makan pizza dan minum jus (makan yang lain ya seperti biasa). Kalimatnya begini “aku hanyalah hati dengan sayap-sayap putih yang terbang mencari cinta untuk ku singgahi, dan itu kau”. Wah, cewe mana coba yang enggak klepek-klepek membaca kalimat seprti itu (bakat gombal). Sambil aku membayangkan bagaimana reaksinya saat membaca suratku, dan aku berharap dia akan sangat menyukainya. Dan benar saja dia menyukainya, tapi dia menyampaikannya lewat sepupuku.
Singkat cerita saat kegiatan MOS berakhir, kami menjalani hari pertama sekolah sebagai siswa SMA. Teman baru, pokoknya semua baru. Kembali lagi aku dibilang pendiam dan dingin. Mungkin karena aku masih belum “merasakan” lebih “dalam” bagaimana membuat prestis yang “seharusnya” aku dalam lingkungan pergaulanku. Dilingkungan yang baru ini, aku sama seperti saat SMP, lebih banyak diam untuk mengidentifikasi lingkungan bergaulku, agar aku bisa nyaman masuk didalamnya. Dan seperti biasa kesan COOL itu seperti sudah melekat padaku (tapi aku biasa saja dengan kesan itu). Di sekolah pertemuan aku dengan kakak itu sangat intens. dia sering lewat depan kelasku (mungkin untuk melihatku). Tapi aku hanya buang muka saja karena sama sekali aku tidak mempunyai pengalaman dalam masalah seperti itu. Kakak itu sering kirim salam untukku. Aku seperti orang yang “aneh” karena tidak bisa bersikap sebagaimana mestinya. Aku sangat menyukai kakak itu, tapi saat dia dekat, malah aku menjauh ; mungkin karena pengaruh aku seorang yang sedikit pemalu (tapi enggak culun ya). Dan pada akhirnya kami benar-benar jauh. Sebenarnya kami sering berhubungan lewat handphone. Kalau di handphone aku tidak pernah malu mengungkapkan perasaanku (walau enggak pernah mengatakan cinta). Tapi kalu ketemu dia, seperti biasa aku pasti menjauh. Sejujurnya aku belum “merasakan” dan “mengerti” bagaimana sikap saat berdekatan dengan seorang cewe (kurang pengalaman).
Setelah naik kekelas 2, aku ingin lagi merasakan perasaan seperti itu (karena hubungan dengan kakak itu sudah jauh). Jadi aku tanya-tanya saja dengan sepupuku, ada apa tidak temannya yang bisa aku dekati. Dan dia merekomendasikanku (kaya barang aja) untuk mendekati temannya ; katakanalah inisialnya “F” . Jadi waktu itu aku minta saja nomor si F. Sebelumnya aku sudah pernah melihat fotonya. Karena kebetulan saat itu hari libur sekolah, jadi belum pernah ketemu si F. Nah, aku ingat pagi saat itu, aku menelepon dia, dan aku memberanikan diri untuk nembak dia (aneh banget ya, padahal belum pernah ketemu). Terus dengan nada lembutnya dia bilang bahwa dia ingin mengenalku dulu.
Awal masuk sekolah setelah libur, aku yang seorang pemalu dan dingin ini memberanikan diri untuk mendekati si F. Wah, ternyata cantik dan manis juga, tapi orangnya enggak bisa diam (gokil). Kemudian aku langsung aja nembak si F , walau diliatin banyak orang tapi aku nekat waktu itu. Si F langsung bilang “iya” dan lari ketoilet karena malu (hedehh..,aneh banget). Dan aku langsung menuju kelas dengan menunjukkan ekspresi wajah yang ”sumbringah” dan berkata ”yeah”. Teman-temanku heran waktu itu (mungkin berfikir aku kesambet). Dan aku lupa bagaimana perasaanku waktu itu ; mungkin seperti terbang kelangit yang tinggi, melayang bareng paus akrobatik, menuju rasi bintang paling manis. pokoknya aku tidak pernah merasakan perasaan seperti itu. Seiring waktu berjalan, si F perhatian banget padaku. Tapi aku ya dingin aja. Sebenarnya aku juga bingung dengan sikapku yang seperti itu. Pada akhirnya adalah aku telah menyakiti perasaanya, karena sikapku yang cuek dan kurang perhatian padanya. Jujur, waktu itu aku masih sangat “dungu” untuk masalah cinta, jadi aku tidak bisa merasakan perasaannya. Dan sebenarnya aku tidak menginginkan itu terjadi. Tapi karena dia orangnya gokil, jadi kupikir dia tidak begitu kecewa terhadapku, yang pada akhirnya aku akan merasakan perasaan yang dia rasakan ; sangat sakit. Sikapku yang dingin membuat aku “cuek” padanya. Padahal dia begitu berharap aku mengerti perasaanya. Karena sudah tidak tahan dengan sikapku, akhirnya dia mengirimkan SMS bahwa dia ingin “putus”. Aku ingat kami menjalani hubungan selama 9 bulan. Anehnya aku biasa saja waktu itu, perasaanku netral saja. Dan lansung ku telepon dia, meminta maaf atas semua sikap dan perilakuku. Begitu lembut dan baiknya dia memaafkan aku. Akhirnya kami berteman, namun masih sama dengan sikapku yang “aneh” itu. 
Banyak kejadian yang mengiringi masa SMA ku. Masalah cinta, pergaulan, dan banyak kejadian yang membuat aku berfikir untuk merubah sikap dingin dan mungkin juga sedikit angkuh saat itu. Aku ingat bagaimana aku menjadi Pembina MOS yang “kejam” dan dengan sikap yang tanpa ekspresi (makanya aku sering dikatakan si wajah tanpa ekspresi) didepan adik-adik kelas yang mengikuti MOS. Setelah MOS berakhirpun aku masih menunjukan sikap yang tidak bersahabat kepada adik kelasku. Sikapku yang seperti itu membuat adik-adik kelasku menjadi tidak menyukaiku, kecuali adik kelasku yang cewe (HE..HE..HE..HE.. :)). Saat itu bisa dibilang aku orang yang temperamental juga. Tapi dibalik itu semua sebenarnya aku tidak ingin semua itu terjadi. Aku bingung sekali dengan sikapku itu.
            Aku begitu tertarik pada hal-hal yang berbau “motivasi”. Aku punya satu buku waktu itu yang masih kusimpan sampai sekarang ; buku kecil yang berisi banyak kata-kata motivasi. Tapi itu semua tidak begitu membantu. Aku orang  yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk “merenung” sendiri dikamar saat perasaan mulai drop. Dalam renungan aku mengidentifikasi berbagai kejadian yang terjadi, dan mencari solusi agar bisa membuatku keep spirit lagi. Tapi tetap saja sikap dan perilakuku seperti itu.
Oya, saat SMA aku juga mengikuti “Drum Band”. Aku waktu itu sebagai peniup “Mellowphone”. Nah, dalam lingkungan baru pergaulan dengan teman-teman drum band pun aku menunjukkan sikapku yang dingin dan pendiam, tapi tidak pernah manunjukan sikap yang tidak bersahabat, mungkin karena aku cukup nyaman dengan lingkungan dan suasananya. Tapi sekali lagi karena aku mengidentifikasi lingkungan baruku. Dalam pergaulan itu, aku juga bergaul dengan Pembina drum band yang juga merupakan orang penting di kabupaten itu. Aku perlu waktu enam bulan untuk bisa benar-benar akrab dengan Pembina itu (kecuali teman-teman drum band yang tidak perlu waktu lama). Sebenarnya aku sedikit “tidak nyaman” dengan sikapku yang seperti itu, apalagi selalu saja aku disebut pendiam. Dari pengalaman-pengalaman itu juga aku lebih banyak merasakan perasaan baru, yang memberiku “referensi” hidup. Banyak dari pengalaman-pengalaman di sekolah SMA maupun saat drum band yang membuat aku harus berkata “seharusnya sikapku seperti ini” sambil pikiranku mengingat semua kejadian yang lalu. Tapi puncaknya adalah setelah aku masuk sebagai Mahasiswa.
Lulus SMA aku melanjutkan ke salah satu perguruan silat (maksudnya perguruan tinggi). Pada bagian ini aku hanya bercerita singkat bagaimana aku menemukan arti COOL yang seharusnya, dengan jatuh bangun. Dan mungkin pada bagian ini kalimatnya akan sedikit “puitis”. Saat awal kuliah (sekarang juga masih kuliah) aku menjalin hubungan dengan jatuh bangun (maksudnya keadaannya yang jatuh bangun, bukan namanya yang jatuh bangun). Jujur aku tidak pernah merasakan perasaan perih dan sakit dalam pengalaman relationship ku. Itu kembali membuat pikiranku “menari-nari” kemasa lalu saat menjalin hubungan dengan F. Ternyata seperti ini perasaan si F saat itu, pikirku. Dalam perasaan terpukul itu aku “jatuh”, dan selalu muncul pertanyaan “mengapa harus begini?”. Dari kejadian itu juga aku benar-benar dipakasa untuk menemukan arti COOL. Saat masuk dalam “black hole” itu, tidak sedikitpun terlintas untuk melampiaskannya dalam minuman keras atau hal yang negatif. Hanya saja itu membuat aktivitasku sehari-hari terganggu, karena diliputi perasaan gundah. Tapi satu kalimat yang selalu membuatku bisa bangkit adalah “she is not God”. Aku mencoba masuk kedalam zona spiritual. Aku intens mencari. Dan aku teringat satu buku dari kakakku yang berisi tentang ”Yoga ”. Aku intens berlatih, tapi tetap tidak bisa merasakan ketenangan. Aku benar-benar  ”gelap” waktu itu.
Internet menjadi labuhanku. Aku browsing tentang menumbuhkan kembali perasaan bahagia. Tetap saja itu percuma. Lalu terlintas di fikiranku untuk mencoba browsing tentang yoga. Kebetulan teknik yoganya juga simple, dan langsung aku terapkan. Awalnya aku mencoba relaksasi dahulu lewat tuntunan buku kakakku itu sebelum memulainya. Berlahan aku seperti bangkit, perasaan ku begitu bahagia. Hanya satu kata yang terucap “WOW” dalam ketenanganku sambil aku tersenyum. Aku menikmati perasaan itu, indah sekali. Aku merasa seperti “terbang”. Damai perasaanku waktu itu. Dari latihan-latihaku yang intens, aku benar-benar menemukan diriku. Aku tidak percaya aku merasakan perasaan seperti itu. Itu membuat aku lebih passionable dan intuitif dalam setiap hari. Penuh semangat hidup. Itu juga membuat aku menemukan bagaimana aku seharusnya dari dulu. Aku seperti masuk kedalam jiwa baru. Tidak ada perasaan takut, aku seperti “bermetamorfosa”. Dalam perasaan itu juga aku bisa membedakan antara “kesenangan, kebahagiaan, kasih, dan kedamaian” ; membedakan antara “teman dan sahabat”. Itu semua membuat pikiran dan kesadaranku terbuka ; seperti ada jawaban dari setiap pertanyaan ”mengapa” ku. Itu semua seperti mengalir alami. Aku bisa lebih merasakan (peka) terhadap perasaan orang lain. Aku lebih menyayangi alam dan binatang. Dan tidak lepas juga dari perasaan ”aneh” ; aneh kok bisa sedamai ini. Aku saat itu juga telah bisa berkata dalam hati ”semoga kamu bahagia dengan siapapun”. Sepertinya aku telah menemukan arti COOL  saat itu. Semua wajar dan alami tanpa dibuat-buat. Hal yang membuat ku lebih aneh adalah aku bisa jadi orang yang asik (kata teman-temanku juga) dan tidak seperti dulu pendiam. Aku berfikir COOL itu bukan aku harus diam dan tanpa ekspresi, tapi menjadi orang yang asik dan ”anggun” adalah COOL yang sebenarnya. Aku sudah bisa tersenyum. Aku juga adalah orang yang merasa kata-kata filosopis tentang cinta, dan hidup adalah omong kosong ; kini aku mulai benar-benar merasakannya, dan ternyata itu semua benar adanya. Mungkin itu bagaian dari perasaan yang COOL juga.

Saat itu api jiwa seperti berkobar. Walaupun kini apinya mulai padam, tapi aku yakin baranya akan menyala dan berkobar lagi saat angin bertiup semilir.

Aku tidak tahu apakah tulisanku ini terlalu “Lebay” atau “Alay” . Tapi aku hanya ingin sharing apa yang aku rasakan. Walaupun aku tahu juga, tulisanku ini tidak begitu menarik untuk dibaca, karena aku juga benar-benar merasakan bahwa “Tak ada gading yang tak retak”. Yah, yang aku yakini semua adalah proses belajar. Semoga bermanfaat untuk yang baca, walaupun sebenarnya tidak ada manfaatnya (ngapain nulis hal yang tidak bermanfaat). Yang pasti,,hidup cowo keren..hehehe Thank you so much…… :)

Terimakasih telah berkunjung. baca juga artikel lainnya di http://formasihati.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Join Me On Paid To Promote