Puisi Sakit Hati ini ”terangkai” dari sebuah kisah sahabat yang sedang pilu. Dalam kegundahan ia berkata ” aku bukanlah seorang pujangga, namun pilu ini yang mengungkapkan sejuta bahasa yang mengalir bersama pena harapan”.
Ketika hari tiada lagi senyummu…
Ketika malam tiada lagi cahayamu…
Aku tersesat dalam renungan…
Tanpa cahaya dan asa…
Rindu menyapa teduhku…
Lelah dirasa...Gundah…
Cerita lalu yang mekar…
Menari-nari dipikiranku…
Cinta tak harus memiliki…
Namun sakitnya tiada terperi…
Gelisah tak pernah henti menggangu…
Walau dalam lelap ia terus berbisik pedih…
Adakah cinta itu kembali…
Dengan lebih indah dan putih…
Hanya tertunduk dalam pelukan sepi…
Sambil memikul sebuah harapan…
Hati tiada berdaya…
Antara ada dan tiada…
Rintihan kembali menusuk…
Melepaskan busur kepedihan…
Semua karena sebuah harapan….
Yang pernah membuai mimpi-mimpi..
Harus terkubur dalam renungan…
Sebab hati tak lagi memiliki…
Puisi sakit hati merefleksikan hati yang kecewa dalam kegundahan. Bakan seorang yang bukan pujangga mampu merangkai puisi sakit hati melalui bahasa pengalaman.
Terimakasih telah berkunjung. Cari artikel lainnya klik http://formasihati.blogspot.com/.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar