Renungan Hati
Setiap orang tentu mempunyai prinsip dan bahkan menjadi suatu komitmen dengan diri sendiri, atau orang lain. Satu hal yang sering terlupa adalah bahwa jika prinsip atau komitmen itu telah ditanam dalam diri, maka prinsip dan komitmen itu yang akan menguji sejauh mana seseorang dapat memegang dengan teguh. Pemahaman yang selalu dibatasi logika terlalu mendominasi, dan mengaburkan sehingga sulit sekali untuk menyatu didalamnya. Yah, tapi itulah hidup, penuh permainan, penuh misteri, namun apapun itu hidup ya hidup akan sebatas apa pengertian tentangnya. Namuan pada hakikatnya hidup sebaiknya dibuat menyenangkan.
Hidup itu adil, kita semua merasakan udara yang sama,
sinar matahari yang sama, dan menikmati keindahan alam yang sama. Yang membuatnya berbeda adalah pemahaman. “Dua orang yang sama-sama melihat kedalam kolam yang sama ; yang satu melihat bintang, tapi yang lainnya melihat Lumpur”. Kita diberi kemampuan yang sama dalam melihat sesuatu dengan jiwa, namun kadang sulit untuk melihatnya indah, karena pikiran mendominasi agar berada dalam pemahaman yang logis. Mengutip dari kalimat seorang Gede Prama, “Logika seperti tongkat bagi orang yang kakinya bermasalah ; orang yang kakinya baik tidak memerlukan tongkat ; bahkan untuk yang bisa terbang, tongkat hanyalah beban yang berat”. Orang-orang yang telah mencapai pencerahan yang murni, melihat semuanya dalam ‘kasih’. Kasih disini tidak terbatas, melihat semua adalah sama, semua adalah tunggal ; mungkin seperti ini pengertian kasih itu. Kembali kepada prinsip dan komitmen tadi, sulit memang untuk benar-benar menjadikannya terpateri dalam diri. Tanpa disadari terkadang ujian menjadi “momok” bagi diri, karena telah berpelukan dengan “zona nyaman”. Setiap orang pasti juga pernah mengalami hal yang sama. Namun pada akhirnya, jika kita bersungguh-sungguh untuk terus berubah menjadi lebih baik lagi, pasti Tuhan akan menuntun untuk teguh dalam menjalani prinsip dan komitmen hidup. Seberapa terintimidasipun kita dalam menjalani keseharian ; dalam tekanan dan depresi, selalu ada hal yang bisa dilakukan untuk terus berbenah diri, belajar dari pengalaman yang telah diberikan hidup. Selalu ingat bahwa tidak ada yang tidak mungkin, bahkan “jika segala sesuatu tidak mungkin, maka apapun mungkin”. Mengutip dari kalimat Norman Vincent Peale, “jadilah sesorang yang percaya bahwa selalu ada kemungkinan dalam segala hal. Tidak perduli betapa gelap tampaknya hal-hal yang terjadi disekelilingmu, angkat wajahmu, dan lihatlah kemungkinan yang ada-carilah selalu, karena kemungkinan itu selalu ada”.
Memang sulit menjalani itu semua, namun jika sesorang memiliki prinsip dan komitmen tadi, walupun berkali-kali melakukan kesalahan, jatuh dalam kesedihan, kegundahan, dan seolah menjadi orang yang munafik karena begitu banyak kalimat bijak yang terucap, tapi percayalah, dan tetap teguh untuk melakukan yang terbaik, pasti semua akan menjadi lebih baik, lebih baik lagi, semakin baik, dan pada akirnya mencapai satu tingkatan yang indah dalam hidup. Percaya bahwa apapun yang terjadi adalah proses belajar, belajar, dan terus belajar untuk jadi semakin baik lagi. Tidak mudah menyerah dan putus asa, karena kita percaya semua punya potensi untuk meraih kesuksesan.
Satu kalimat dari Anonim, “antusiasme adalah hal kecil yang dapat membuat perubahan besar”. Yah, memang begitu luar biasa antusiasme ini, “jika ia berwujud sesorang, pasti akan aku peluk erat dan tak akan ku lepas”. Karena pasti begitu nyaman berpelukan dengannya, tidak ada rasa menyerah dan putus asa dalam pelukannya. Tapi walaupun tidak bisa memeluknya dengan tubuh ini, antusiasme selalu coba kupeluk dengan hati ini. Karena antusiasme mewakili sesuatu yang tidak pernah aku sadari sebelumnya. Sekali lagi tidak mudah memang, karena tidak ada sesuatu yang terjadi secara instant, bahkan mie instant pun harus direbus dahulu sebelum dapat dikonsumsi. Artinya semua butuh waktu dan proses, yang disertai keinginan untuk jadi semakin baik lagi.
Menilik pelukan terakhir, pasti lebih nyaman lagi jika “berpelukan dengan kesabaran”. Kita selalu berkata untuk tetap sabar, namun jarang kita untuk berpelukan dengan sabar. Intinya kembali adalah semua butuh waktu dan proses. Karena apapun yang telah terurai dari awal adalah makna yang implisit terhadap suatu kesuksesan dan kebahagiaan. Dan ini juga berimplikasi dengan dreams, mimpi-mimpi yang terus dirajut dalam kebahagiaan terakhir. Apapun yang telah terjadi, positif atau negatif, tentang konsistensi, kegagalan, dan apapun yang menyertai perjalanan kemarin hingga saat ini, tetap percaya itu suatu kebanggaan dan kelak akan menjadi bukan batu sandungan, tapi batu loncatan untuk mencapai semuanya di masa depan.
Menutup kalimat terakhir, mungkin ini bisa mewakili apa yang ingin diungkapkan lebih jauh lagi, satu kalimat yang sangat bermakna dan penuh impresi ; “Aku mungkin bisa menjadi siapa saja, tapi aku hanya ingin jadi dirku sendiri”.
Terimakasih telah berkunjung. Baca juga ungkapan hati lainnya di Kata Mutiara Patah Hati.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar