Laman

Kamis, 30 Agustus 2012

Kata Mutiara Patah Hati


Ketika suatu kisah harus berakhir, mungkin hati sangat sulit menerimanya. Tapi hati ini berusaha sekuat mungkin bertahan dalam badai cinta yang indah. Apa yang telah terucap dari bibir ini muncul bukan dari emosi sesaat yang menggelora, tapi benar-benar tulus dari hati terdalam. Aku tak tahu apakah kau merasakannya juga, tapi apa yang terungkap darimu membuatku tak mampu lagi berkata, hati tak ingin memaksa, hati tak ingin kau luka lagi, sangat bodoh dan kekanak-kanakan memang, tapi apa yang hati ini rasakan tak cukup diwakili dengan kata “cinta”. Aku memang seperti patung yang tak mampu bergerak, tapi hati ini tidak pernah menstigma hatimu dengan cinta yang tak indah, hatimu tetaplah hatimu yang dulu hati ini kenal. Hati ini ingin agar kau mengenalnya lebih jauh lagi, seperti saat kau meraih tanganku dengan kebahagiaan, seperti itulah apa yang hati ini rasa tentang dirimu. Memang tak cukup rasa yang luas hanya diwakili dengan waktu yang sekejap. Hati dengan bisikan lirih berungkap agar cinta kembali dengan lebih indah sembari menitikkan tinta kuas membentuk lukisan baru yang lebih indah lagi pada sebingkai kertas rindu, dan memeluknya dengan lembut.
Sungguh jauh dari pengertianku
tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin waktu ingin agar aku  bisa jadi yang terbaik untukmu, begitupun juga dengan apa yang waktu inginkan bagimu untukku. Aku hanya mampu berucap, tapi tak mampu melakukan apapun agar kau mengerti yang aku inginkan dari semua rasa yang ada. Ada rasa yang utama, mengikatku, memelukku, hingga aku bertepi dalam sudut perhatianku tentangmu. Aku selalu berbisik pada sahabat didalam agar kau mengerti sebenarnya cerita-cerita aku dengan diriku, semua tentangmu, harapan dan asa bahwa cinta itu mewakili semuanya, dan aku ingin mewakili hatiku sebagai teman, sahabat, kekasih, rindu, dan semua yang lirih, membangkitkan hati dan senyummu. Namun, cerita berbeda jadi amplas yang kasar, namun terus dan berlahan akan menghaluskan cerita ini jadi lebioh halus lagi. Sungguh sulit kini bagiku bertahan, namun rangkaian huruf dan kata ini mungkin bisa mewakili lautan rasa yang berdebur di batu karang pengertian ;“jika aku tak sungguh-sungguh dengan rasa itu, aku tidak mungkin bersikap seperti itu”.
Apapun yang terucap hanya ingin agar cahaya itu tak terus redup. Kau mungkin mewakili cahaya itu, tapi aku seolah-olah membuatmu seperti kegelapan yang merindukan cahaya. Aku benci jika harus redup, namun sebenarnya tak pernah benar-bnear membencinya, karna aku sadari “ketika cahaya datang, kegelapan nampak sebgai sinar”. Aku hanya ingin kau mengetahui ketidakkonsistenanku karena ketika aku bertemu cahaya, aku takut jika kegelapan tidak bisa meneduhkan dan melelapkanku dalam kenyataan. Aku hanya takut jika kau pergi dan hilang bersama cahaya itu, lalu aku terpuruk dalam suara-suara pilu.
Dalam kesunyian disudut lelah, hanya ada rindu yang menemani. Sambil menerawang kedalam bingkai lukisan Yang Maha, terungkap banyak kebodohan yang berlari-lari seperti anak-anak. Tidak semua ternyata terasakkan dalam jiwa, hingga kata-katamu menyatu dihati, membuatnya tertunduk dan jatuh dalam ingatan untuk jadi kata-kata bijak. Apa yang telah aku alamai, yang membuatku terbang dalam pelukan kedamaian, mengambisikanku agar jiwamu bisa merasakan jiwa yang sama. Melihat lakumu, katamu, lambaianmu, semakin kuat rasa itu menyelimuti, seolah kau bukan yang dulu. Membuatku membuat ukuranku sendiri untukmu, yang sebenarnya itu mewakili ego. Ternyata aku harus kehilangan damai itu, bukan semua salahmu, dan akupun tak mampu memberikan damai itu, bahkan harus kehilangan ceritamu yang akan membawa cerita baru.
Kau datang dengan senyuman baru yang meragukanku, membuatku menyimpan tanda tanya yang dalam. Tapi semua bertepi ditaman jiwa. Cukup perih memang menepikan itu, namun jauh berjalan di lorong-lorong pemahaman, membuka pintu pikiran baru yang terketuk sejak dulu. Hingga hari itu, semua telah terungkap dengan ketulusan, berharap kau jadi lukisan dibingkai rasa ini. Tapi aku sesali semua yang membuat bibirmu untuk diam, dan membuatku jatuh dan perih, membuatku bergejolak. Di sudut-sudut rasa perih itu, sahabat datang dengan membawa cahaya baru yang memberikan kehangatan dan obat rindu yang dalam akan dirimu. Lalu dalam keheningan Ia berbisik “saat ini kau harus berdamai dengan dirimu sendiri”.

Terimakasih telah berkunjung. Baca juga artikel lainnya di http://formasihati.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Join Me On Paid To Promote